Selamat Datang.
Kami menyediakan berbagai macam berita dan info-info menarik dan bermanfaat lainnya.
No Hoax dan dari sumber terpercaya.
#dirumahaja
#sementaraaja
#ngeblogaja
Pemerintah memperbarui data pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) terkait virus Corona (COVID-19) di Indonesia. Per hari ini, jumlah PDP bertambah menjadi 16.763 orang dan ODP menjadi 186.330 orang.
"Dari pemeriksaan ini kalau kita hitung berdasarkan jumlah pasien, maka akumulasi data pasien yang kami himpun dari seluruh dinas kesehatan provinsi, kita dapatkan 186.330 orang dalam status ODP. Data ini adalah akumulatif dan sebagian sudah selesai dipantau. PDP sebanyak 16.763," ujar juru bicara pemerintah terkait penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube BNPB, Selasa (21/4/2020).
Data ini dikumpulkan hingga pukul 12.00 WIB tadi. Pemerintah memastikan bakal terus melakukan uji spesimen untuk mempercepat pelacakan kasus virus Corona.
"Spesimen yang kita periksa sudah mencapai 503.701. Kasus yang diperiksa sebanyak 46.173 orang," sebut Yurianto.
Pada Senin (20/4), jumlah PDP terkait virus Corona di Indonesia sebanyak 16.343 orang. Sementara ODP sejumlah 181.770 orang.
Pemerintah sudah membuka pendaftaran kartu pra kerja pada 11 April 2020. Semula target penerima ini adalah orang-orang yang belum bekerja, namun di masa pandemi saat ini aturannya diubah, juga ditujukan untuk orang-orang korban PHK.
Kartu pra kerja ini merupakan program pemerintah sejak awal, sebuah langkah baik jika dilihat dari target yang akan dicapai yaitu menyiapkan keahlian bagi para pencari kerja. Namun di masa pandemi ini apakah kartu pra kerja merupakan solusi?
Kita ketahui kondisi pandemi seperti saat ini menyebabkan munculnya gelombang besar yang menyeret kekuatan ekonomi Indonesia ke arah yang sangat mengkhawatirkan terutama dunia usaha. PHK sudah dimulai dari beberapa perusahaan dan terus menghantui banyak pekerja formal terutama yang bekerja di perusahaan swasta. Data hingga 2019, jumlah pekerja formal Indonesia mencapai angka 55 juta dengan 4 juta pekerja merupakan PNS.
Selain itu tutupnya kegiatan UMKM baik yang tutup sementara juga yang mengarah ke bangkrutnya usaha. Pelaku UMKM merupakan bagian dari pekerja informal. Jumlah pekerja informal Indonesia adalah 74 juta, dengan jumlah sekitar 59 juta adalah pelaku UMKM. Dan, mayoritas pelaku UMKM berada di Pulau Jawa dengan zona merah corona.
Sedangkan keahlian calon pekerja yang diharapkan dari kartu pra kerja ini adalah menyiapkan calon pekerja untuk siap diterima di perusahaan-perusahaan. Dalam kondisi pandemi ini kita meyakini tidak ada perusahaan yang akan melakukan proses rekrutmen tenaga kerja dalam jangka pendek. Kecuali jika pemerintah bisa memastikan kapan akan berakhirnya pandemi ini.
Di Wuhan saja, sebagai tempat bermulanya muncul virus corona, hingga sekarang belum pulih benar, meskipun status lockdown sudah dicabut dengan adanya beberapa pembatasan dan aturan. Namun, di beberapa wilayah China masih memberlakukan aturan karantina wilayah, yang sudah pasti mayoritas negara lain berkesimpulan, pandemi ini masih sulit diprediksi kapan akan berakhir.
Masih sulitnya diprediksi kapan akan berakhirnya pandemi ini juga disebabkan karena hingga saat ini belum ditemukannya vaksin pencegah dan obat pasti penyembuhnya. Situasi karantina wilayah di sebagian besar wilayah negara di dunia yang memiliki industri strategis yang berhubungan antarnegara akan semakin memberatkan kondisi ekonomi seperti Indonesia.
Langkah Cepat
Dalam situasi krisis saat ini, pemimpin harus mengambil langkah cepat. Baik pemimpin daerah juga pusat. Karena krisis yang terjadi saat ini bukan sekedar krisis ekonomi, namun juga krisis pada keselamatan jiwa masyarakat Indonesia.
Belajar dari langkah yang dilakukan Wuhan, dengan memprioritaskan untuk menekan laju penyebaran virus dan bertambah besarnya korban, maka kita bisa mengikuti langkah tersebut dengan membatasi gerak orang ke orang. Seperti kebijakan yang telah diambil pemerintah dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan sudah dilakukan DKI Jakarta.
PSBB sudah diikuti beberapa wilayah penyangga Jakarta seperti Depok, Bekasi, dan Bogor, menyusul Tangerang Raya. PSBB ini sudah pasti semakin berdampak buruk pada aktivitas ekonomi dan bisnis di wilayah-wilayah tersebut dan pasti akan menjalar di beberapa provinsi di Indonesia yang mempunyai kaitan erat bisnis dengan wilayah yang menerapkan PSBB. Karena beberapa provinsi zona merah sudah bersiap untuk mengajukan permohonan PSBB.
Walaupun gelombang kebangkrutan usaha dan PHK sepertinya sulit dihindari, namun pembatasan sosial tetap sebagai prioritas, dengan harapan kita bisa segera mengurangi hingga menghilangkan kasus baru orang yang terinfeksi virus corona ini.
Anggaran yang dimiliki pemerintah pusat dan daerah harus betul-betul tepat sasaran di masa sulit ini; jangan sampai perang baru dimulai, namun kita sudah kehabisan amunisi. Yang kita butuhkan sekarang pembatasan wilayah zona merah virus corona, dengan bantuan sembako bagi masyarakat ekonomi rendah merupakan hal prioritas. Hal prioritas ini yang harus dilakukan pemerintah baik pemerintah pusat juga daerah saat ini, agar masyarakat mau untuk tetap tinggal di rumah.
Semua pihak harus memahami kondisi ini, baik pelaku usaha maupun karyawan. Bahwa virus ini selain menghilangkan nyawa orang, juga dampak parah adalah meskipun telah sembuh, secara medis sebagian orang yang pernah terjangkit virus ini akan mengalami penurunan sebagian fungsi organ vitalnya seperti paru-paru. Sehingga kartu pra kerja bukan merupakan solusi saat ini bagi orang yang belum bekerja dan korban PHK untuk dapat terhindar dari virus corona.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan melarang mudik Lebaran pada hari raya Idul Fitri 1441 H bagi seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini dilakukan demi menekan penyebaran virus Corona ke banyak daerah.
Sebelumnya, Jokowi hanya melarang mudik untuk aparatur sipil negara (ASN), pegawai BUMN, dan TNI-Polri.
"Mudik semuanya akan kita larang," ujar Jokowi membuka ratas di Istana Presiden yang disiarkan langsung lewat akun YouTube Setpres, Selasa (21/4/2020).
Kementerian Perhubungan sendiri sudah mulai menggarap aturan setingkat Peraturan Menteri untuk mengatur jalannya transportasi saat pelarangan mudik. Dalam aturan ini, bagi yang masih nekat mudik bakal kena sanksi.
Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi menjelaskan bahwa sanksinya akan berpatokan pada UU no 6 tahun 2018 soal Kekarantinaan Kesehatan.
"Sanksinya itu ada di UU Karantina no 6 tahun 2018 ada itu. Saya nggak hapal persis, tapi mungkin akan kita ambil dari situ," jelas Budi kepada detikcom, Selasa (21/4/2020).
Sanksinya menurut Budi paling berat bisa jadi terkena denda dan hukuman kurungan.
"Ada denda sama hukuman. Dendanya berapa lupa saya, dilihat UU-nya aja. Kalau hukuman ya mungkin kurungan." kata Budi.
Bila dilihat dari UU no 6 tahun 2018, dalam pasal 93 disebutkan ada hukuman kurungan paling lama setahun dan denda maksimal hingga Rp 100 juta.
"Setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dan/atau menghalang-halangi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sehingga menyebabkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)" bunyi pasal 93 dikutip detikcom.
Sementara itu, dalam Pasal 9 ayat (1) menyebutkan, setiap orang wajib mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan.
Pemerintah resmi melarang pelaksanaan mudik Lebaran 2020, guna mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) ke berbagai daerah. Larangan ini disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas hari ini, Selasa (21/4/2020).
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan skema dan aturan pelaksanaan larangan tersebut.
Adapun skema yang disiapkan adalah pembatasan lalu lintas. Angkutan umum dan kendaraan pribadi dilarang untuk keluar dari zona merah Covid-19.
“Kendaraan angkutan umum, kendaraan pribadi, sepeda motor tidak boleh keluar masuk zona merah,” kata Budi dalam keterangan tertulis, Selasa.
Lebih lanjut, Budi menegaskan pihaknya tidak akan menutup akses jalan antar wilayah, sebab pemerintah tidak melarang angkutan barang dan logistik untuk beroperasi.
"Skenario yang disiapkan jika mudik dilarang adalah berupa pembatasan lalu lintas pada jalan akses keluar masuk wilayah, bukan penutupan jalan," ujar Budi.
Dengan demikian, nantinya di setiap akses keluar masuk wilayah akan dipersiapkan check point untuk memeriksa setiap orang yang akan keluar masuk Jabodetabek.
“Dalam melaksanakan pembatasan lalu lintas tentunya diperlukan kerja sama dengan banyak pihak, terutama jajaran kepolisian sebagai garda terdepan,” tuturnya.
Kementerian Perhubungan disebut sudah memiliki sanksi bagi masyarakat yang nekat mudik.
Menurut Budi, sanksi tersebut bisa diterapkan mengacu pada UU No. 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.
“Sanksi yang paling ringan bisa dengan dikembalikan saja kendaraan tersebut untuk tidak melanjutkan perjalanan mudik,” ucapnya.
Sebuah penelitian menunjukkan tingkat fatalitas akibat COVID-19 pada pasien yang memiliki riwayat penyakit kronis lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Persentase fatalitas COVID-19 pada kondisi penyakit kronis di antaranya hipertensi 6%, diabetes 7,3%, penyakit kardiovaskular 10,5%, penyakit saluran pernafasan kronis 6,3%, kanker 5,6%; dibandingkan dengan angka 0,9% pada pasien yang tidak memiliki riwayat penyakit kronis.
Penelitian berjudul The Epidemiological Characteristics of an Outbreak of 2019 Novel Coronavirus Diseases (COVID-19) ini mempelajari 44.672 kasus COVID-19 yang terkonfirmasi positif di China. Dari kasus positif ini, tercatat bahwa terjadi 1.023 kematian atau tingkat fatalitas sebesar 2,3%
Kaitan Penyakit Jantung dan Hipertensi dengan Tingkat Keparahan COVID-19
Efek spesifik COVID-19 terhadap sistem kardiovaskular masih belum diketahui, tetapi tampaknya dapat mempengaruhi penderita penyakit jantung dalam beberapa hal. Dikutip dari American College of Cardiology, Infeksi virus berkaitan dengan peradangan di dalam tubuh yang dapat memperburuk dan meningkatkan risiko kondisi acute coronary syndrome (kondisi gangguan yang terjadi akibat terhambatnya aliran darah ke jantung).
Lalu, COVID-19 terutama menyerang bagian paru-paru. American Heart Assocition menyatakan bahwa hal ini dapat mempengaruhi fungsi jantung, terutama jantung yang 'tidak sehat' yang perlu bekerja keras dalam memompa darah beroksigen ke seluruh jaringan tubuh.
Bagi mereka yang mengalami gagal jantung, hal ini akan memperburuk kondisi mengingat efisiensi jantung dalam memompa darah sudah terganggu
Selain itu, penyakit kronis, termasuk penyakit jantung, berkaitan dengan penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh. Data juga menunjukkan bahwa infeksi virus serupa berkaitan dengan terganggunya stabilitas plak yang terbentuk pada pembuluh darah.
Hal ini terutama berbahaya untuk penderita penyakit jantung yang memiliki plak pada pembuluh darah karena berpotensi menyebabkan penyumbatan pembuluh darah yang berkaitan dengan serangan jantung.
Untuk penderita tekanan darah tinggi, masih belum diketahui secara pasti kaitan antara hipertensi dan tingkat keparahan COVID-19. Hal ini disebabkan karena penyakit darah tinggi umumnya berkaitan dengan komplikasi masalah kesehatan lainnya dan faktor usia lanjut sehingga sulit untuk memisahkan pengaruh masing-masing faktor.
Namun, tekanan darah tinggi berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah dan terhambatnya aliran darah ke jantung yang dapat mengganggu fungsi jantung.
Tak Cukup Physical Distancing
Mengurangi risiko penyakit kronis seperti hipertensi dan jantung menjadi tak kalah penting selain menjaga kebersihan diri dan physical distancing agar tak terinfeksi COVID-19. Salah satunya dengan membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak.
Cara lain yaitu dengan mengganti gula dengan pemanis rendah kalori dan masak makanan di rumah dengan bahan makanan yang lebih rendah lemak dan rendah garam, sebagai contoh kecap manis bebas gula dan rendah garam Tropicana Slim atau minyak yang lebih rendah lemak jenuh seperti minyak jagung atau minyak kanola Tropicana Slim. Pastikan juga asupan nutrisi lainnya agar daya tahan tubuh tetap kuat, rutin berolahraga, dan istirahat yang cukup.
Yuk lindungi diri kita dan keluarga, terutama bagi yang sudah memiliki riwayat penyakit kronis. Bila perlu produk bebas gula, bebas atau rendah lemak, dan rendah garam, kamu bisa menggunakan produk-produk Tropicana Slim
Presiden Joko Widodo telah menyatakan akan melarang seluruh warga mudik Lebaran hari raya Idul Fitri 1441 H. Ia meminta segala hal yang terkait dengan pelarangan mudik untuk segera disiapkan.
"Mudik semuanya akan kita larang," ujar Jokowi membuka ratas di Istana Presiden yang disiarkan langsung lewat akun YouTube Setpres, Selasa (21/4/2020).
Dari beberapa kajian yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan, masuk ada 24 persen warga yang berkeinginan mudik Lebaran dan 7 persen bahkan telah mudik. Untuk itu pelarangan ini disebut langkah mencegah penularan Corona semakin meluas.
Pada prinsipnya, mudik berpotensi menjadi sumber penularan infeksi COVID-19 dari satu daerah ke daerah lain. Potensi endemik virus Corona di daerah tujuan mudik akan lebih cepat dan besar. Disebutkan oleh Staf Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Panji Fortuna Hadisoemarto, pelarangan mudik bisa membuat potensi penyebaran virus Corona menurun.
"Tapi kita tidak bicara bahwa tidak ada mudik akan menghentikan penularan penyakit yang sudah terjadi di dalam masing2 daerah. Supaya penularan yang sudah terjadi bisa dihentikan, maka intervensi seperti PSBB dan isolasi kasus harus tetap dijalankan dengan efektif," ujarnya kepada detikcom melalui pesan singkat, Selasa (21/4/2020).
Sebelumnya, Wuhan sebagai episentrum penyebaran virus Corona pertama di China juga melakukan pembatasan perjalanan dan lockdown beberapa hari sebelum perayaan Tahun Baru Imlek. Hal tersebut terbukti bisa menekan penularan virus Corona.
"Saya pikir melarang mudik sudah mirip-mirip mengkarantina wilayah, ya," imbuhnya.
Saat ini, Panji menyebut pemerintah harus lebih tegas dan bisa meyakinkan banyak masyarakat dan menunjukkan bahwa larangan mudik memang memiliki dampak positif. Terlebih mudik Lebaran adalah tradisi yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Semenjak dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 108 Tahun 1964 oleh Presiden Sukarno pada 2 Mei 1964 yang secara resmi menetapkan R.A Kartini sebagai pahlawan nasional, telah lebih dari 50 kali Hari Kartini diperingati. Namun pertanyaan-pertanyaan yang tak hilang dan terus menggelayuti peringatan tersebut ialah makna apa di baliknya?
Besar kemungkinan peringatan tersebut adalah bentuk penghargaan dan refleksi nilai-nilai perjuangan serta capaian Kartini untuk bangsa Indonesia saat ini. Namun, besar pula kemungkinan bahwa ini hanyalah penurunan pemahaman nilai perjuangan Kartini; bukan soal perjuangan yang telah dilakukan individu Kartini, melainkan lebih kepada distorsi pemahaman masyarakat Indonesia saat ini terkait poin maupun yang melatarbelakangi perjuangan Kartini.
Hemat saya, dugaan kedua tersebut mempunyai dasar-dasar yang lebih kuat. Dalam konteks perjuangan Kartini, terlihat pengerdilan nilai serta lingkup perjuangan Kartini yang hanya sebatas dipahami emansipasi wanita, kebebasan dalam pendidikan, serta kehidupan rumah tangga. Poin-poin tersebut tidaklah salah, namun terlalu banyak lompatan di dalamnya.
Bila kita melihat latar belakang kondisi Jawa pada umumnya maupun lingkungan sekitar Kartini dalam hal ini Jepara saat itu, ketiga poin tersebut tidaklah merepresentasikan kondisi zamannya secara keseluruhan. Bila kita telaah setidaknya sistem yang mengikat pada saat itu ialah feodalisme bangsa penjajah dan hukum adat yang berlaku.
Feodalisme penjajah yang telah menjadi tata hidup pribumi telah menyebabkan penderitaan terhadap petani dan para pekerja. Sebagai sebuah sampel kondisi pribumi terlihat di Demak dan Grobogan saat itu, dari 336.000 penduduk dalam waktu dua tahun tersisa hanya 120.000 orang yang diakibatkan bencana kelaparan. Kondisi tersebut tak lekas berubah bahkan ketika Kartini beranjak dewasa, yang ia gambarkan dalam suratnya:
....malulah aku terhadap keangkaraanku. Aku renungi dan pikirkan keadaanku sendiri, dan diluar sana begitu banyak derita dan kemelaratan melingkungi kami! Seketika itu juga seakan udara menggetar oleh ratapan tangis, erang dan rintih orang-orang di sekelilingku. Dan lebih keras dari erang dan rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: kerja! kerja! kerja! Perjuangkan kebebasanmu! Baru kemudian kalau kau telah bebaskan dirimu sendiri dengan kerja, dapatkah kau menolong yang lain kerja! kerja! Aku dengar itu begitu jelas, tampak tertulis di depan mataku! (Surat 17 Mei 1902 kepada Estelle Zeehandelaar).
Kondisi itu secara implisit mengabarkan bahwa tidak semua perempuan Jawa terkurung atau hidup dalam dalam pingitan; mereka harus keluar untuk "kerja! kerja! kerja!" Membantu pekerjaan di sawah ladang maupun pasar untuk menyuburkan dan mengisi kas penjajah dengan airmata, keringat, ratap tangis, bahkan darah pribumi.
Bila melihat kondisi tersebut, pendidikan belum menjadi kebutuhan primer pribumi saat itu. Meskipun saat itu dunia sudah memasuki zaman modern dan telah melawati masa Pencerahan pada abad ke-18 yang ditandai kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan, namun masih belum sampai kepada penduduk pribumi. Hal ini disebabkan satu-satunya bahasa untuk menerima ilmu pengetahuan di Hindia Belanda adalah Bahasa Belanda.
Selanjutnya, terhadap kondisi hidup dalam pingitan, hal tersebut hanyalah berlaku pada kaum bangsawan yang diatur oleh hukum adat pribumi:
Mengejutkan adat kami orang jawa. Seorang adikku, lelaki maupun wanita, tak boleh jalan melewati aku, atau kalau toh harus melewati, dia mesti merangkak di tanah. Kalau seorang adik duduk di atas kursi dan aku hendak lalu, mestilah ia segera meluncurkan diri ke tanah dan disana duduk menekuri tanah itu sampai aku tak tampak lagi olehnya. Terhadap aku, adik-adikku tak boleh ber-aku-ber-kau, dan pada setiap akhir kalimat yang keluar dari mulutnya harus mereka tutup dengan sembah.
Kalau adik-adikku, tak peduli lelaki atau wanita, berbicara dengan orang lain tentang diriku, mereka harus mempergunakan bahasa tinggi segala apa yang berhubungan dengan diriku, misalnya pakaian, tempat duduk, tangan, kaki, mata, pendeknya apa saja milikku.
Kepalaku yang terhormat ini tidak boleh mereka menyentuhnya tanpa izin istimewa dari aku dan itu pun sesudah diupacarai dengan beberapa kali sembah. Kalau ada panganan di meja, bocah-bocah kecil itu tidak boleh menghampiri, sebelum aku berkenan mengambil barang sedikit.
Duh, Stella, kau harus lihat, bagaimana di kabupaten-kabupaten lain saudari dan sudara itu bergaul! Mereka itu bersaudara, hanya karena mereka anak dari orangtua yang sama; tak ada hubungan lain yang menghubungkan mereka terkecuali darah. Saudara-saudara itu hidup berdampingan seperti orang-orang asing satu terhadap yang lain, Cuma persamaan raut muka, yang kadang-kadang pun tak tampak, yang jadi tanda kesaudaraan mereka. (Surat 18 Agustus 1899 kepada Estella Zeehandelaar)
Melihat akan adanya kejomplangan tersebut, serta guna menghindari berlanjutnya pengerdilan perjuangan dari sosok revolusioner sekaligus keluarga modern yang berasal dari pribumi yang telah mengetahui pentingnya ilmu pengetahuan, maka dirasa perlu untuk menambah pemahaman kita akan poin pokok perjuangannya.
Menentang Diskriminasi
Bila kita tidak alpa dalam mengamati sejarah terkait latar belakang perjuangan Kartini mulai dari Pangeran Ario Tjondronegoro sebagai Bupati Kudus pada umur 25 tahun hingga Kartini purna dalam perjuangannya, akan tampak diskriminasi bahkan sejak awal kelahirannya. Hal tersebut disebabkan oleh latar belakang keturunan sang ibu, Ngasih yang hanya anak seorang mandor pabrik gula.
Beranjak besar tak menjamin diskriminatif tersebut hilang, bahkan tetap dirasakan ketika ia menjadi siswa di sekolah rendahan. Hal ini senada seperti yang dikatakan di dalam buku Menadonesche School (Taman Pengajaran) bahwa anak-anak dibariskan di depan kelasnya menurut warna kulit ataupun kedudukan orangtuanya dalam susunan kepegawaian kemudian berurutan masuk. Tak terlepas akan hal yang sama, diskriminasi terhadap pribumi bahkan diterima Kartini dari guru-gurunya di sekolah:
Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tapi kami berusaha maju, kemudian mereka mengambil sikap menentang terhadap kami. Aduhai! Betapa banyak duka cita ketika kami dahulu semasa masih kanak-kanak di sekolah; para guru kami dan banyak di antara kawan-kawan sekolah kami mengambil sikap permusuhan terhadap kami.
Tapi memang tidak semua guru dan murid membenci kami. Banyak juga yang mengenal kami dan menyayangi kami, sama halnya terhadap murid-murid lain. Kebanyakan guru itu tidak rela memberikan angka tertinggi pada anak jawa, sekalipun murid itu berhak menerimanya. (Surat 12 Januari 1990 kepada Estella Zeehandelaar).
Memperbaiki Kehidupan Pribumi
Bagi seorang Kartini, anak dari bangsawan Bupati Jepara, tentu saja mengenai kebutuhan dasar tidak menjadi persoalan. Namun terpenuhinya kebutuhan ini tak serta merta membuatnya puas dan menutup mata akan keadaan lingkungan sekitar. Aktualisasi dirilah yang menjadi kebutuhannya saat itu, yang tak lain upaya memperbaiki kehidupan pribumi. Pun demikian meski hukum adat feodal menjadi sekat pemisah antara dirinya dan rakyat jelata, tak membuat kepeduliannya hilang:
Disebut bersama dengan rakyatku; dengannyalah ia akan berada buat selama-lamanya! Aku sangat bangga, Stella, disebut dengan satu napas dengan rakyatku. (Surat 8 April 1902 Kepada Estella Zeehandelaar)
Dengan memperbarui serta menambah perbendaharaan referensi atas Kartini, seorang pemula dari konseptor sejarah modern Indonesia, kita dapat merinci poin-poin perjuangannya yang merupakan hasil dari menggodok aspirasi-aspirasi pribumi saat itu. Hal ini pun sebuah bukti akan kecintaan dan rasa kasih sayang kepada sosok perempuan berbudi luhur yang dapat memahami segala penderitaan rakyatnya.
Pandemi Corona telah memberikan dampak yang signifikan pada kehidupan masyarakat di dunia. Virus tersebut telah mengubah pola hidup dan kebiasaan setiap orang. Sebelumnya, kamu mungkin tidak akan berpikir dua kali saat ingin pergi ke luar rumah namun saat ini kamu bahkan takut dan selalu merasa cemas ketika harus melakukannya. Tidak hanya itu saja, nyatanya pandemi Corona juga bisa berdampak pada pola tidur yang dimiliki.
Seperti dikutip dari Express, menurut Colin A Espie, Profesor Sleep Medicine di Oxford University, krisis pandemi Corona saat ini dapat mempengaruhi siklus 24 jam atau yang biasa dikenal dengan ritme sirkadian karena kenaikan tingkat kecemasan yang dimiliki. Selain itu, beberapa orang juga bisa memperoleh mimpi-mimpi yang tidak biasa.
Professor Espie mengaku banyak menemukan orang-orang yang susah tidur setelah ada pandemi Corona. Padahal menurutnya tidak hanya kesehatan pada siang hari yang perlu diperhatikan, melainkan kesehatan pada malam hari juga penting.
“Tidur adalah pusat dari kehidupan kita dan karena itu terjadi secara otomatis maka kita menerima yang hanya begitu saja. Sekarang kita berada di satu tempat (hampir sepanjang hari) sehingga mudah untuk meggabungkan pola tidur dan bangun,” jelas Espie.
Penyebab susah tidur di malam hari selama corona.
Foto: iStock
Hal itu mengarah pada ritme sirkadian yang mungkin kamu abaikan sehingga menyebabkan kelelahan siang hari dan pusing pada pagi hari. Jika kamu ingin memperbaiki ritme sirkadian yang kamu miliki, maka kamu bisa menggunakan cahaya alami dari sinar matahari. Professor Espie menjelaskan bahwa cahaya pada siang hari dapat membantu melatih jam tubuh 24 jam atau ritme sirkadian yang dimiliki.
6 Provinsi Terbanyak Pasien Positif Corona Covid-19
“Orang-orang mendapatkan lebih sedikit sinar matahari dan tidak bangun pagi-pagi. Kehilangan cahaya dan perubahan kebiasaan memungkikan jam tubuh terganggu dan dapat menyebabkan rasa tidak enak. Sangat penting untuk mempertahankan rutinitas dan mendapatkan sinar matahari,” kata Espie.
Itulah mengapa sangat penting untuk tetap bangun pada pagi hari meskipun kamu bekerja dari rumah atau tidak mengurus anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Jika kamu biasa melakukan olahraga pagi maka itu juga dapat membantu menjaga ritme sirkadian yang dimiliki. Lakukan pagi-pagi dengan memanfaatkan cahaya luar.
Selama isolasi diri di rumah mungkin kamu bisa dengan mudah untuk makan lebih banyak dari yang kamu butuhkan, tetapi tidak demikian dengan tidur. Profesor Espie sangat tidak menyarankan untuk tidur di luar rutinitas rutin karena hal itu dapat menghancurkan pola tidur seseorang sehingga membuatnya lebih sulit tidur.
Jika kamu merasa mengantuk maka kamu tetap diperbolehkan melakukan tidur siang singkat. Hanya saja bagi orang yang merasa kelelahan lebih disarankan untuk melakukan aktivitas dan mendapatkan cukup sinar matahari daripada tidur. Tidur ketika merasa lelah akan menyebabkan kesulitan tidur di malam hari. Selain itu, hal tersebut juga akan meningkatkan potensi kecemasan dan stres.
Bangun pagi bisa jadi cara atasi susah tidur.
Foto: iStock
Profesor Espie mengatakan orang yang tidak bisa tidur akan berpikir bahwa mereka merasakan itu, sehingga akan membuat mereka mulai merasa khawatir. Dan semakin kamu mencoba untuk tidur maka kamu akan sulit untuk terlelap. Berbeda jika kamu bisa tertidur lelap maka kamu tidak akan memikirkan hal-hal tersebut.
Perubahan pola tidur umumnya paling banyak dirasakan oleh orang-orang yang masih bekerja, seperti para tenaga medis. Steph Baker, seorang ahli fisiologi jantung berusia 26 tahun mengatakan bahwa dirinya bahkan tidak bisa melakukan apapun ketika sampai di rumah karena banyak hal yang harus dipikirkannya. Selain itu, dia juga mengalami mimpi yang tidak biasa.
“Ada satu mimpi di mana saya pergi untuk melihat musikal, dan kemudian tiba-tiba aktris utamanya jatuh sakit dan saya yang menggatikannya, tetapi saya tidak mengetahui dialognya,” kata Baker.
Profesor Espie menjelaskan bahwa mimpi adalah hal yang normal. Hanya saja terkadang saat kita merasa depresi, mimpi yang dimiliki bisa terasa seolah-olah memiliki lebih banyak konten emosional atau kecemasan. Hal itu yang mungkin banyak dirasakan oleh orang-orang di tengah pandemi Corona ini. Professor Espie juga menekankan bahwa tidak perlu menganalisis mimpi tersebut terlalu jauh.
Dunia belum lepas dari bayang-bayang pandemi Corona Covid-19. Bukan semakin berkurang, beberapa negara justru dikonfirmasi akan mengalami gelombang kedua pandemi yang bermula dari Wuhan, China ini.
Sampai dengan Rabu 15 April 2020, warga dunia yang terinfeksi virus corona mencapai 1.973.715 kasus. Amerika Serikat (AS) tercatat sebagai negara yang memiliki kasus terbesar dengan 608.377 orang terkonfirmasi positif Covid-19.
Mengutip dari gisanddata.maps.arcgis.com, jumlah kematian karena Covid-19 secara global tercatat sebanyak 125.910 jiwa.
Sedangkan di Indonesia, untuk periode yang sama, total orang yang positif terinfeksi Corona Covid-19 mencapai 5.136 jiwa. Selain itu, total yang sembuh mencapai 446 kasus dan kematian terjadi pada 469 kasus.
Untuk menahan penyebaran virus ini, pemerintah pun mengeluarkan berbagai kebijakan. Pertama adalah social distancing atau pembatasan sosial. Kebijakan ini mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga jarak dengan orang lain.
Kebijakan kedua, bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Selain itu, pemerintah juga meminta seluruh masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di luar rumah.
Kebijakan terbaru yang pengaruhnya paling besar adalah pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Dalam kebijakan ini, gerak warga sangat dibatasi dalam suatu wilayah.
Sebagian besar kegiatan yang melibatkan publik dibatasi, seperti perkantoran atau instansi diliburkan, pembatasan kegiatan keagamaan dan pembatasan transportasi umum.
Infografis Nasib Dunia Usaha Diterpa Corona (Liputan6.com/Triyasni)
Langsung Terasa
Dengan segala pembatasan tersebut membuat dunia usaha melesu. Pasalnya, segala gerak dibatasi sehingga para pengusaha tidak bisa berjualan lagi. Contoh paling nyata dan langsung terlihat saat ini adalah semakin sedikitnya masyarakat yang pergi ke pusat perbelanjaan.
Wakil Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan, pandemi ini telah membuat jumlah kedatangan ke mal-mal di seluruh Indonesia anjlok hingga 90 persen.
“Jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan menurun sangat drastis. Bahkan ada yang cuma tinggal 10-20 persen saja. Berarti turun sampai 80-90 persen,” ujar dia kepada Liputan6.com.
Jumlah pengunjung merosot usai muncul anjuran untuk mengurangi kegiatan di luar rumah demi mencegah penyebaran virus. Kondisi tersebut, membuat pengelola mal banyak merugi.
Bahkan ada beberapa beberapa pusat perbelanjaan yang kemudian memilih untuk menutup operasi dan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ke karyawan.
Salah satu contohnya adalah Ramayana di City Plaza Depok. Sebanyak 87 karyawan Ramayana terpaksa kena PHK karena perusahaan memutuskan tidak lagi beroperasi sejak 6 April 2020 lalu.
Store Manager City Plaza Depok, M Nukmal Amdar menuturkan, wabah virus Corona menyebabkan omzet penjualan menurun hingga 80 persen. Akibatnya, perusahaan tak mampu lagi menanggung semua biaya operasional.
Selain pusat perbelanjaan, sektor perhotelan dan transportasi juga langsung terpuruk.
Ketua Peserta pelatihan memproduksi alat pelindung diri (APD) berupa pakaian dekontaminasi atau baju hazmat di Balai Latihan Kerja (BLK), Cibodas, Kota Tangerang, Rabu (15/4/2020). BLK memproduksi baju hazmat berbahan Polypropylene Spundbound secara mandiri untuk tenaga medis. (Liputan6.com/Fery Pradolo)
Menteri koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ada yang mengalami kerugian di tengah pandemi Corona. Namun ternyata juga ada usaha kecil yang mampu bertahan dan bahkan mengambil keuntungan.
Sebanyak 65 persen UMKM mengeluhkan karena jumlah permintaan menurun baik permintaan dalam negeri maupun luar negeri.
Sementara UMKM yang mampu membukukan keuntungan adalah UMKM yang mampu mengubah produksi atau beralih usaha karena melihat peluang di tengah wabah corona, seperti ada yang memproduksi Alat Pelindung Diri (APD), masker, hand sanitizer dan lainnya.
“Ada juga konveksi-konveksi yang beralih produksi membuat APD, masker, dan sekarang permintaan cukup besar ada juga yang membuat hand sanitizer,” ujarnya.
Lanjut, Teten mengatakan bahwa UMKM yang masih bertahan juga mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku, ia menyebut sektor makanan dan minuman yang terdampak sekali, karena bahan baku gula sulit ditemukan atau langka dan harganya tinggi.
Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih mengakui ada beberapa sektor IKM yang paling terdampak Corona seperti pangan. Transaksi usaha IKM pangan turun hingga sekitar 54,14 persen. “Semisal yang buat bahan kopi, bahan bakso. Bukan kafenya ya,” ujar dia kepada Liputan6.com.
Selain pangan, IKM di sektor konveksi pun secara keseluruhan terdampak. Namun kemudian IKM konveksi melihat peluang yang bisa melanggengkan usahanya. Pengusaha sektor ini kemudian beralih menjual produk kesehatan seperti masker, dan berbuah hasil.
“Jadi yang biasanya jual baju dia kemudian diversifikasi produk jual masker. Pokoknya yang berhubungan dengan produk kesehatan sekarang ini lagi naik, termasuk masker itu,” tukas Gati.
Gati menyebutkan, buah karya IKM yang menjual produk kesehatan terutama cairan pembersih tangan (hand sanitizer) laku keras. Tak main-main, transaksi dagangannya pun laris manis dan meningkat sangat pesat. “Yang jual hand sanitizer sekarang ini memang lagi naik. Tahu berapa kenaikannya? Bisa sampai 700 persen,” seru dia.
Beberapa kelompok usaha IKM yang berhasil mempertahankan kegiatannya juga karena memanfaatkan platform online untuk berjualan. Bahkan, IKM tetap bisa meraup keuntungan selama masa pandemi ini.
“Secara keseluruhan sektor IKM memang terdampak Covid-19. Tapi beberapa tetap bertahan dan usahanya meningkat berkat memanfaatkan platform online. Bahkan yang jualan baju pun ada loh (yang mengalami peningkatan),” jelas dia.
Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Hariyadi Sukamdani mengatakan bahwa terdapat 1.226 hotel yang melaporkan menutup sementara aktivitas perhotelan. Jumlah ini bisa lebih banyak, lantaran ini hanya berdasarkan laporan yang diterima PHRI. Diperkirakan, jumlah pegawai hotel yang terdampak wabah virus corona ini mencapai 150 ribu orang.
Penutupan juga terjadi untuk sektor restoran. Menurutnya beberapa restoran yang di mal banyak yang tutup, dan hanya ada beberapa apa yang masih melayani order secara online.
“Restoran lebih banyak lagi cuma saya enggak punya datanya. Restoran paling tidak disiplin buat data,” tandas Hariyadi.
Sedangkan di sektor transportasi, industri penerbangan juga langsung terdampak. Beberapa maskapai penerbangan nasional sudah merumahkan pilot dan karyawannya karena pendapatan mereka menurun drastis.
“Logis aja kalau perusahaan pendapatannya berkurang banyak atau nol, sementara biaya tetap masih berjalan ya cash flow perusahaan akan berkurang atau minus,” ujar Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Bayu Sutanto.
Sejak Januari sampai Maret 2020, terjadi penurunan penumpang pesawat. Bahkan sepanjang April tak ada permintaan pemesanan tiket pesawat sama sekali.
Dunia usaha angkutan darat di DKI Jakarta pun tak berdaya di tengah pandemi Corona. Jumlah penumpang menurun drastis lebih dari 90 persen yang membuat pemasukan bisnis menipis tapi beban pengeluaran tetap mengalir sehingga membuka ruang terjadinya kebangkrutan massal.
Organisasi Angkutan Darat (Organda) Provinsi DKI Jakarta memastikan setengah dari jumlah keseluruhan armada transportasi darat yang mencapai 85.902 telah berhenti beroperasi. Jika kondisi ini terus berlarut dipastikan bahwa pada Juni 2020, usaha transportasi darat ibu kota akan mati.
"Transportasi darat, dua bulan ke depan mungkin ambruk,” kata Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda) Provinsi DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan.
Survei Bank Indonesia
Ilustrasi Pertambangan.
Bank Indonesia (BI) melakukan survei, terhadap 3.719 pelaku usaha yang tersebar di seluruh Indonesia. Hasilnya, menemukan jika memang terjadi penurunan kegiatan dunia usaha di Kuartal I 2020.
Turunnya kegiatan usaha terjadi pada sejumlah sektor ekonomi seperti sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran. Hal tersebut terutama disebabkan oleh adanya penurunan permintaan dan gangguan pasokan akibat wabah Corona.
Namun di luar itu juga ada sektor yang mampu bertahan. Sektor usaha yang akan bisa bertahan dan justru mengalami peningkatan di tengah pandemi Corona adalah sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan.
Secara subsektor, peningkatan terjadi pada tanaman perkebunan yang didorong oleh panen pada komoditas strategis perkebunan yaitu kelapa sawit, kakao dan cengkih.
Kemudian, subsektor perikanan juga diproyeksi meningkat sejalan dengan menurunnya curah hujan yang mempengaruhi hasil tangkapan.
Adapun sektor lainnya yang diproyeksi masih bertahan ialah sektor listrik, gas dan air bersih.
Lalu sektor pengangkutan dan komunikasi juga diproyeksi mengalami akselerasi, khususnya subsektor pengangkutan karena adanya hari Raya Idul Fitri. Namun memang, akselerasi ini tak tinggi karena masih adanya imbauan dari pemerintah terkait pembatasan mudik.
Terakhir, sektor jasa-jasa diperkirakan mengalami peningkatan kinerja yang cukup baik.
Sulit Bertahan
Sedangkan untuk sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan akan tumbuh negatif. Harga minyak dunia serta curah hujan yang tinggi diprakirakan masih membatasi operasi sektor pertambangan dan penggalian.
Untuk kegiatan usaha sektor industri pengolahan diperkirakan tumbuh terkontraksi. Hal tersebut terjadi karena dampak dari permintaan yang menurun.
Sejalan dengan penurunan kinerja kegiatan usaha, penggunaan tenaga kerja pada sektor industri pengolahan juga mengalami penurunan yang semakin dalam.
Kegiatan usaha sektor kontruksi juga terindikasi tumbuh terkontraksi. Perlambatan kegiatan usaha disebabkan oleh melemahnya pangsa permintaan proyek konstruksi dan infrastruktur.
Tak Ada yang Tak Terimbas
Layanan telekomunikasi operator seluler.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan P Roeslani menyatakan, tidak ada industri yang tidak terkena imbas penyebaran Corona. Namun, industri rokok dan telekomunikasi, seperti instalasi menara BTS, memang justru mengalami pertumbuhan dalam kondisi sekarang.
“Kalau yang tumbuh itu rokok, telekomunikasi, (pembangunan) BTS tower. Yang terdampak, sudah jelas pariwisata, hotel kan sudah tutup 1.600-an, restoran, transportasi, industrial estate, ritel dan penerbangan, itu sudah pasti,” jelasnya kepada Liputan6.com.
Rosan juga menyebutkan beberapa sektor usaha yang bertahan namun tidak mengalami kinerja yang signifikan, seperti industri otomotif, semen, konstruksi, petrokimia dan perbankan.
Wakil Ketua Umum Apindo Bob Azam menyatakan industri alat kesehatan dan farmasi serta obat-obatan naik karena saat ini permintaan terhadap alat kesehatan dan obat-obatan sedang naik.
“Industri farmasi, alat kesehatan, telekomunikasi itu naik sekarang, karena orang beli alat kesehatan, obat, lalu berdiam diri di rumah dan bekerja di rumah jadi membutuhkan telekomunikasi,” ujar Bob kepada Liputan6.com.
Berbeda dengan Bob, Rosan menyatakan meskipun saat ini sedang baik, namun 90 persen bahan baku alat kesehatan masih impor sehingga harga masih mahal dan kinerja industri alat kesehatan dan farmasi juga tidak mengalami kenaikan yang tinggi.
Lebih lanjut Rosan menyatakan sektor perkebunan justru terdampak karena konsumsi dunia menurun.
“Seperti kelapa sawit, banyak untuk ekspor. Ini kan terdampak juga. Lalu pertambangan juga menurun, seperti coal mine, batu bara, ekspor kita kan ke India. Mereka kan pertumbuhannya sedang turun, jadi kita terhambat,” jelas Rosan.
Di sisi lain, Bob menyatakan, selain sektor pariwisata dan turunannya, sektor makanan dan minuman juga diprediksi akan turun meskipun awalnya diperkirakan naik.
“Awalnya diprediksi sektor makanan dan minuman naik, karena konsumsi naik, tapi karena mal-mll pada sepi, pada tutup, jadi sepertinya kinerjanya juga tidak signifikan,” tutur Bob.
Buka Segan Tutup Tak Mau
Pekerja menyelesaikan pembuatan mobil di pabrik di Karawang.(Liputan6.com/Immanuel Antonius)
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, dampak dari Corona telah terjadi pelemahan yang tajam pada sektor manufaktur.
“Terjadi pelemahan yang tajam pada produksi sektor manufaktur. PMI manufaktur per kuartal I berada di 45,64 persen. Turun dari 51,50 persen pada kuartal sebelumnya dan 52,65 persen pada kuartal I-2019,” ujarnya pada Liputan6.com.
Selain itu, gelombang PHK secara langsung memberi tekanan terhadap anjloknya pendapatan masyarakat. Sehingga beberapa bulan kedepan omset industri makin menurun.
“Cash flow pelaku usaha terganggu karena virus corona. Sementara tidak semua pelaku usaha dapat keringanan atau penangguhan cicilan kredit. Likuiditas yang ketat berisiko terhadap gelombang PHK yang lebih besar,” jelas Bhima.
“Beban ULN meningkat karena pelemahan kurs rupiah. Padahal tidak semua pelaku usaha lakukan hedging atau lindung nilai,” imbuhnya.
Sementara itu, menurut Bhima, beberapa sektor seperti farmasi dan obat-obatan banyak mengalami kenaikan permintaan di tengah corona. Baik permintaan APD, suplemen makanan, vitamin, dan sebagainya.
“Kemudian beberapa sektor tekstil pakaian jadi mampu melakukan penyesuaian dengan cepat dan mengalihkan produksinya untuk membuat APD,” ungkapnya.
UMKM Fleksibel
Peserta pelatihan memproduksi alat pelindung diri (APD) berupa pakaian dekontaminasi atau baju hazmat di Balai Latihan Kerja (BLK), Cibodas, Kota Tangerang, Rabu (15/4/2020). BLK memproduksi baju hazmat berbahan Polypropylene Spundbound secara mandiri untuk tenaga medis. (Liputan6.com/Fery Pradolo)
Menteri koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ada yang mengalami kerugian di tengah pandemi Corona. Namun ternyata juga ada usaha kecil yang mampu bertahan dan bahkan mengambil keuntungan.
Sebanyak 65 persen UMKM mengeluhkan karena jumlah permintaan menurun baik permintaan dalam negeri maupun luar negeri.
Sementara UMKM yang mampu membukukan keuntungan adalah UMKM yang mampu mengubah produksi atau beralih usaha karena melihat peluang di tengah wabah corona, seperti ada yang memproduksi Alat Pelindung Diri (APD), masker, hand sanitizer dan lainnya.
“Ada juga konveksi-konveksi yang beralih produksi membuat APD, masker, dan sekarang permintaan cukup besar ada juga yang membuat hand sanitizer,” ujarnya.
Lanjut, Teten mengatakan bahwa UMKM yang masih bertahan juga mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku, ia menyebut sektor makanan dan minuman yang terdampak sekali, karena bahan baku gula sulit ditemukan atau langka dan harganya tinggi.
Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih mengakui ada beberapa sektor IKM yang paling terdampak Corona seperti pangan. Transaksi usaha IKM pangan turun hingga sekitar 54,14 persen. “Semisal yang buat bahan kopi, bahan bakso. Bukan kafenya ya,” ujar dia kepada Liputan6.com.
Selain pangan, IKM di sektor konveksi pun secara keseluruhan terdampak. Namun kemudian IKM konveksi melihat peluang yang bisa melanggengkan usahanya. Pengusaha sektor ini kemudian beralih menjual produk kesehatan seperti masker, dan berbuah hasil.
“Jadi yang biasanya jual baju dia kemudian diversifikasi produk jual masker. Pokoknya yang berhubungan dengan produk kesehatan sekarang ini lagi naik, termasuk masker itu,” tukas Gati.
Gati menyebutkan, buah karya IKM yang menjual produk kesehatan terutama cairan pembersih tangan (hand sanitizer) laku keras. Tak main-main, transaksi dagangannya pun laris manis dan meningkat sangat pesat. “Yang jual hand sanitizer sekarang ini memang lagi naik. Tahu berapa kenaikannya? Bisa sampai 700 persen,” seru dia.
Beberapa kelompok usaha IKM yang berhasil mempertahankan kegiatannya juga karena memanfaatkan platform online untuk berjualan. Bahkan, IKM tetap bisa meraup keuntungan selama masa pandemi ini.
“Secara keseluruhan sektor IKM memang terdampak Covid-19. Tapi beberapa tetap bertahan dan usahanya meningkat berkat memanfaatkan platform online. Bahkan yang jualan baju pun ada loh (yang mengalami peningkatan),” jelas dia.
Pandemi Corona telah menimbulkan kepanikan dan kekhawatiran bagi setiap orang. Hal itu yang terkadang bisa menimbulkan spekulasi-spekulasi yang kurang tepat. Dan banyak informasi yang beredar di masyarakat hanyalah mitos, tanpa adanya bukti. Oleh karena itu penting bagimu untuk mencari informasi dengan sumber yang jelas dan terpercaya.
Seperti informasi mengenai cara penularan virus corona hingga masa inkubasinya. Dikutip dari The Conversation, virus Corona atau COVID-19 menyebar melalui cairan pernapasan yang dikeluarkan oleh pasien terinfeksi saat batuk atau bersin. Cairan tersebut yang kemudian dapat menginfeksi orang lain ketika orang tersebut tidak sengaja menyentuh permukaan yang sudah terkontaminasi. Selain itu, virus dan bakteri juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung, dan mulut.
Gejala umum yang biasanya dialami penderita COVID-19 memang menyerupai flu, seperti demam dan batuk kering. Berdasarkan data dari 55 ribu kasus di China, sebanyak 88% pasien terinfeksi mengalami demam dan 68% mengalami batuk kering. Selain itu, gejala lain seperti kelelahan, memproduksi dahak, nafas pendek, sakit tenggorokan dan sakit kepala juga dilaporkan dalam kasus tersebut. Lalu berapa lama masa inkubasi virus Corona sampai akhirnya seseorang merasakan gejala-gejala tersebut?
Menurut WHO (World Health Organization), masa inkubasi virus Corona atau selang waktu antara orang yang sudah terinfeksi COVID-19 sampai mulai memperlihatkan gejala-gejala, umumnya sekitar 1 hingga 14 hari. Dan masa inkubasi virus Corona, paling umum sekitar 5 hari.
Sedangkan berdasarkan penelitian baru yang diterbitkan pada 17 Maret 2020 oleh University of Massachusetts Amherst, masa inkubasi virus Corona atau COVID-19 lebih dari 5 hari. Dan 97,5% orang yang terinfeksi akan memperlihatkan gejala COVID-19 dalam 11,5 hari.
Dalam riset tersebut para peneliti, Nicholas Reich, associate professor di School of Public Health Sciences, yang memimpin penelitian, bersama dengan rekannya Thomas McAndrew melakukan survei mingguan terhadap 20 model penyakit menular untuk menilai pendapat ahli kolektif mereka mengenai lintasan wabah COVID-19 di Amerika Serikat. Para peneliti dan ahli permodelan kemudian merancang, membangun dan menafsirkan model untuk menjelaskan serta memahami dinamika penyakit menular dan dampaknya pada populasi manusia.
Para peneliti memeriksa 181 kasus yang dikonfirmasi dengan paparan yang dapat diidentifikasi dan gejala yang ditimbulkan untuk memperkirakan masa inkubasi virus Corona. Dari penelitian tersebut para peneliti kemudian menyimpulkan bahwa “periode pemantauan aktif saat ini yang direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit A.S. [14 hari] didukung dengan baik oleh bukti yang ditemukan.
Namun kamu tidak perlu terlalu khawatir karena sebagian besar orang yang terinfeksi virus Corona, yaitu sekitar 80%, memiliki penyakit yang tergolong ringan sehingga tidak perlu pergi ke rumah sakit dan akan pulih dengan sendirinya setelah sekitar dua minggu. Sisanya, sekitar 20% mungkin akan mengalami kesulitan bernapas yang parah sehingga dibutuhkan perawatan di rumah sakit.
Dari 20% pasien COVID-19 yang perlu dirawat di rumah sakit, hanya sekitar 6% yang akan menjadi kritis karena kegagalan bernapas. Orang-orang itu yang cenderung memerlukan perawatan intensif. Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar satu minggu hingga seseorang menjadi sakit parah setelah memperlihatkan gejala.
Biasanya orang-orang yang berisiko menjadi sakit parah hingga meninggal adalah orang-orang yang berusia di atas 60 tahun dengan masalah kesehatan yang sudah dimilikinya. Untuk orang berusia 60-69 tahun, 3,6% dari mereka yang terinfeksi COVID-19 akan meninggal dan semakin meningkat untuk yang berusia 70-79 tahun, yaitu sekitar 8%, serta di atas 80 tahun sebesar 14,8%.
Sayangnya belum dapat dipastikan apakah seseorang yang telah terinfeksi COVID-19 lalu sembuh tidak akan terserang virus tersebut kembali. Kemungkinan hal itu bisa memberikan kekebalan jangka panjang. Tetapi tidak jelas berapa lama kekebalan tersebut akan melindungi tubuhmu dari COVID-19.
Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan bahwa vaksin COVID-19 mungkin satu-satunya hal yang bisa mengembalikan dunia pada keadaan normal. Guterres pun berharap vaksin tersebut akan tersedia sebelum akhir tahun ini.
“Vaksin yang aman dan efektif mungkin merupakan satu-satunya alat yang dapat mengembalikan dunia pada rasa ‘normal,’ menyelamatkan jutaan nyawa dan triliunan yang tak terhitung,” ujar Guterres dalam konferensi video dengan puluhan negara-negara Afrika yang menjadi anggota PBB.
Pemimpin badan dunia itu meminta percepatan pengembangan vaksin untuk virus Corona dan akses untuk semua, seraya menambahkan bahwa vaksin itu harus memiliki “manfaat global yang universal dan memungkinkan kita untuk mengendalikan pandemi.”
“Kita membutuhkan upaya ambisius untuk memastikan bahwa para pemangku kepentingan internasional beroperasi melalui pendekatan yang terpadu dan terintegrasi untuk memaksimalkan kecepatan dan skala yang diperlukan untuk penyebaran universal vaksin tersebut pada akhir 2020,” tegasnya seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (16/4/2020).
Guterres juga mengatakan bahwa permintaan yang disampaikannya pada 25 Maret lalu mengenai donasi US$ 2 miliar untuk penanganan komprehensif PBB atas pandemi virus Corona, sejauh ini telah terkumpul sekitar 20 persen dari jumlah itu.
Lewat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ujar Guterres, PBB telah bisa melengkapi 47 negara Afrika dengan alat tes virus Corona.
Sekjen PBB itu juga memuji upaya sejumlah negara Afrika untuk memitigasi konsekuensi dari pandemi Corona, misalnya Namibia yang memberikan dana darurat bagi para pekerja yang kehilangan pekerjaan dan Mesir yang telah menurunkan pajak atas industri-industri.
Pandemi corona atau Covid-19 di Indonesia yang masih terus mengalami perkembangan membuat pemerintah memperpanjang masa darurat Covid-19. Hingga 14 April 2020, berdasarkan data situs covid19.go.id sudah ada 4839 kasus corona, 426 dinyatakan sembuh, dan 459 meninggal dunia yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.
Untuk mencegah penyebaran semakin meluas, pemerintah menghimbau masyarakat untuk melakukan social dan psychical distancing serta work from home. Pada awalnya instruksi bekerja dari rumah terdengar menyenangkan. Anda tak perlu pergi ke kantor, menghadapi kemacetan, kehujanan atau kepanasan, bisa selalu berkumpul dengan keluarga dan sebagainya.
Namun, seiring berjalannya waktu terus menerus berada di rumah juga dapat menyebabkan masalah kesehatan secara mental maupun fisik. Dikutip medicaldaily.com, permasalahan yang terjadi seperti depresi, frustasi, rasa cemas hingga ketakutan. Sedangkan secara fisik badan menjadi mudah pegal-pegal, kram pada kaki, nyeri pada leher dan bahu, serta mata menjadi mudah lelah. Belum lagi jika asupan makanan, pola istirahat dan kebersihan rumah tidak diperhatikan. Malahan membuat tubuh gampang sakit dan mudah terpapar virus.
Untuk menjaga kesehatan mental dan tubuh selama berada di rumah dikutip dari Healthline, Anda bisa praktekkan hal ini.
1. Jaga Rutinitas dengan Teratur
Sebelum pandemi corona, Anda terbiasa bangun pagi untuk berangkat ke kantor. Pertahankan rutinitas sehat ini. Jangan karena bekerja di rumah, Anda malah terbiasa bangun siang. Seperti Anda ketahui bangun pagi, menghirup udara pagi dan menikmati sinar matahari pagi sangat bermanfaat bagi tubuh. Ditambah Anda bisa mengawali hari dengan berolahraga dan rutin sarapan pagi.
2. Tidak Tidur Siang Berlebihan
Melihat sofa dan kasur empuk di rumah tentu menggoda untuk tidur siang. Secukupnya saja, jangan tidur siang berlebihan karena ini dapat merusak rutinitas Anda. Alih-alih tidur siang, lebih baik segera menyelesaikan pekerjaan sehingga menghindari lembur dan bisa melakukan aktivitas bermanfaat lain di rumah.
3. Rutin Olahraga
Langkah kaki harian Anda jauh berkurang, tempat gym tutup dan Anda tidak bisa jogging bebas seperti biasanya. Lakukan olahraga ringan selama di rumah, stretching, yoga, angkat barbel, lompat tali, dan sebagainya manfaatkan perlengkapan lain yang Anda miliki. Buat diri Anda berkeringat agar metabolisme tubuh bekerja optimal. Selain itu olahraga juga dapat menurunkan tingkat stres dan depresi serta membakar kalori.
4. Asupan makanan dan informasi yang sehat
Selain mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi secara teratur, Anda juga perlu menerima informasi atau arus berita yang sehat. Tak melulu tentang Covid-19, Anda juga perlu mengakses informasi lain yang bisa membuka wawasan, memberi inspirasi dan optimisme. Sehingga Anda bisa menghindari perasaan cemas dan khawatir berlebihan karena pandemi.
5. Batasi Paparan Cahaya Biru dan Penggunaan Gadget
Tak bisa dipungkiri selama pandemi corona, internet dan gadget menjadi alat paling aktif untuk mengusir rasa jenuh dan bosan. Namun, menatap layar ponsel dan televisi terus menerus tidak membuat tubuh Anda lebih baik dan tidur lebih nyenyak. Mulai sekarang sebaiknya Anda mencoba tidak menonton televisi maupun menggunakan ponsel satu jam sebelum waktu tidur.
6. Jaga Tubuh Tetap Terhidrasi
Karena tidak banyak melakukan aktivitas berat selama di rumah, tanpa disadari kita menjadi jarang minum air putih. Jangan sampai ini terjadi. Anda perlu tetap memastikan tubuh terhidrasi dengan baik agar seluruh sistem di tubuh dengan lancar dan sempurna. Kekurangan cairan dapat membuat Anda mudah lelah dan tidak baik bagi organ dalam. Hindari mengkonsumsi minuman soda berlebihan atau bahkan alkohol.
Untuk alternatif minuman sehat, Anda bisa mencicipi minuman sarang burung walet. Sarang walet atau dikenal dengan sebutan Edible’s Bird Nest merupakan sarang yang tercipta dari air liur burung walet yang kemudian menjadi padat.
Khasiat Luar Biasa Sarang Burung Walet untuk Kesehatan
Di balik segarnya minuman sehat sarang burung, sarang walet mengandung Epidermal Growth Factor (EGF) untuk produksi kolagen alami. Dikutip dari merdeka, sarang walet memiliki banyak khasiat bagi kesehatan yang tak disangka-sangka.
Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Sebagai sumber asam amino penting
Mencegah resistensi insulin
Menurunkan risiko penyakit jantung
Sebagai sumber mineral terbaik
Sebagai sumber antioksidan
Meningkatkan vitalitas dan menjaga kesehatan para usia lanjut.
Selain itu semua, mengkonsumsi sarang walet secara rutin dapat membantu menjaga kecantikan kulit seperti peremajaan kulit, membuat kulit lebih halus, lebih bercahaya, dan tampak lebih muda.
Begitu banyaknya manfaatnya sarang walet, Realfood mengajak masyarakat Indonesia untuk memulai gaya hidup sehat dengan mengonsumsi olahan sarang burung walet melalui program-program sehat yang dijalankan. Pertama, program sehat Stay Fit. Stay Fit merupakan partner yang tepat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari bagi anda dan keluarga, termasuk anak-anak yang mana kesehatan adalah prioritas Utama. Program ini yang membantu menjaga sistem imunitas guna memaksimalkan kegiatan sehari-hari tanpa merepotkan.
Kemudian program sehat Royal Wellness. Program ini hadir untuk memberikan nutrisi lengkap untuk segala usia. Glikoprotein dan asam sialat dalam kandungan sarang burung walet aslinya membantu menyokong sistem imun, mempercepat proses regenerasi sel, menjaga sistem metabolisme tubuh, serta membantu menjaga sistem pencernaan.
Sementara Seluruh program sehat dari Realfood tersebut aman dijalankan karena telah mendapat sertifikasi ISO 22000, BPOM dan Halal serta fasilitas produksi yang modern dan steril.
Anda bisa mengikuti dan memulai program sehat Realfood kapanpun sesuai kebutuhan masing-masing. Program sehat Realfood tidak menggunakan Bahan Pengawet, Pemanis Buatan, dan Pewarna. Produk Realfood disupervisi oleh ahli gizi dan nutrisi yang berpengalaman. Untuk mendapatkan manfaat terbaik program sehat Realfood harus dikonsumsi rutin saat perut kosong, agar penyerapan zat-zat aktif dari program Realfood dapat maksimal. (1 jam sebelum sarapan atau 3 jam setelah makan malam).
Program sehat Realfood yang berdurasi minimal 12 hari Realfood ini dapat menjadi awal dari perjalanan hidup sehat di tengah pandemi corona yang terjadi di Indonesia.